Menu

Mode Gelap
 

Collection · 13 Sep 2023 10:15 WIB ·

Belajar Bahasa Asing, Pelajari Juga Budaya dan Kehidupan Sosialnya


 Sumber Foto: Tulisanrakyat.com/Adobestock Perbesar

Sumber Foto: Tulisanrakyat.com/Adobestock

Tulisanrakyat.com – Jika kalian ditanya “Do you understand that?” = Apakah kamu ngerti itu?. Kalau jawabannya, “Yes, I do”, maka jelas kalian mengerti hal itu dan begitu juga sebaliknya.

Jika kalian menjawab “No, I don’t”, maka kalian tidak mengerti hal itu. Secara eksplisit, jelas makna kedua jawaban tersebut.

Bagaimana jika pertanyaannya dalam bentuk negatif? “Don’t you understand that?” = Kamu gak ngerti itu ya?

BACA JUGA: Horn atau Tanduk Tidak Selalu Identik dengan Hewan tetapi Juga tentang Tanaman dan Benda Lainnya

Dalam konteks Bahasa Indonesia jika kita jawab ya, maka artinya kita tidak paham hal itu karena kata ya di dalam Bahasa Indonesia bisa digunakan untuk menguatkan pernyataan atau pertanyaan negatif.

Seandainya kita ditanya apakah kita tidak punya uang, maka kita bisa mengatakan: Ya, kita tidak punya uang. (Yes, we don’t have any money. Dalam Bahasa Inggris tepatnya No, we don’t have any money.).

Kembali ke pertanyaan negatif tadi. Don’t you understand that? Menurut kaedah Bahasa Inggris jawaban yes (ya) tetap lah positif dan no (tidak) tetaplah negatif maknanya.

Artinya jika kita jawab “Yes, I do” atau “I do”, maka kita mengerti hal itu walaupun pertanyaanya negatif.

Hal seperti itu tentunya bisa menjadi penghalang (budaya) khususnya bagi mahasiswa Indonesia yang baru belajar di Amerika atau Inggris.

BACA JUGA: Beda Bangsa, Beda Budaya, Beda Bahasa, Beda Falsafah, dan Beda Pula Istilahnya

Bahasa itu kan sifatnya sosialkultural. Artinya, jika kita belajar bahasa asing maka kita harus memahami kehidupan sosial dan budaya penutur aslinya juga.

Makna sosiokultural adalah makna yang terbentuk oleh budaya setempat atau juga mempunyai muatan sosial tertentu.

Contohnya adalah “Hei, mau pergi kemana?”, yang dalam budaya kita adalah pertanyaan umum dan dianggap sebagai sebuah sapaan jika kita berpapasan dengan tetangga kita.

Tetapi tidak dengan budaya orang Amerika atau Inggris. Kita tidak sepatutnya bertanya ke tetangga kita “Hi, where are you going?”, mereka mungkin akan menjawabnya “None of your business” atau “Mind your own business” = bukan urusanlo.

Contoh lain adalah ucapan “selamat makan” yang tidak ada dalam budaya Inggris atau Amerika, sehingga tidak ada ucapan “Good eat”, sekalipun dalam Bahasa Prancis kita menjumpai “bon appetite” yang maknanya serupa.

Yang ada dalam Bahasa Inggris adalah “enjoy your meal”.

Begitu halnya dengan kata “good night” yang secara harfiah (literal) bermakna “selamat malam”. Di Indonesia kata “selamat malam” bisa diucapkan, baik saat bertemu maupun saat berpisah di malam hari.

Tetapi tidak dengan di Inggris atau Amerika. Kata “good night” di sana diucapkan di malam hari saat mau tidur. Oleh sebab itu seringkali diindonesiakan menjadi “selamat tidur”.

“Good night” juga bisa diucapkan di sore hari saat berpisah.

Dulu penulis pernah menonton wawancara seorang tamu asing (pesebakbola terkenal kalau enggak salah) di salah satu stasiun TV swasta di mana reporternya yang ditugaskan mewawancarai menyapa sang tamu saat sesi wawancara itu akan dimulai dengan “Good night, how are you?”

Sang tamu awalnya terlihat sedikit bingung tetapi dia mencoba memahami dengan cepat dan wawancara pun tetap berlanjut. Seharusnya “good evening” bukan “good night”.

Makna sosiokultural suatu bahasa banyak kita jumpai atau temui pada peribahasa (sayings, proverbs) karena peribahasa itu merupakan cerminan keperibadian budaya suatu bangsa.

Ketika mengajar di kelas dan memberi siswa pertanyaan apa bahasa Inggrisnya “menyelam sambil minum air?” Mereka secara spontan menjawab “diving by drinking the water”. Hehe…you may get drowned (bisa tenggelam nanti kamu)

Secara harfiah dan diterjemahkan kata per kata, memang betul. Tetapi sekali lagi, bahasa itu sosiokultural sifatnya oleh karena itu kita harus cari padanan atau peribahasa yang berlaku di Inggris yang memiliki makna yang sama.

Analogi peribahasa yang tepat adalah “kill two birds with one stone” = membunuh dua ekor burung dengan satu batu. Peribahasa ini nyaris sama dengan “sekali dayung dua tiga pulau terlampaui”.

Dari peribahasa tampak bahwa kita memiliki sudut pandang yang berbeda untuk hal yang sama.

Dalam budaya kita, dipakai istilah “meminjam” yang bermakna “borrow” dalam Bahasa Inggris, saat kita ingin menggunakan telepon tetangga, teman atau orang lain dengan mengatakan: “Boleh pinjam telepon/hape kamu gak?”

Sedangkan di Inggris atau Amerika mereka punya kebiasaan atau budaya yang berbeda dan umumnya akan mengatakan: “May I use your telephone/cellphone?” Di Inggris dan Amerika bukan meminjam melainkan menggunakan. Kaya punyanya sendiri aja ..ya

“Baru aja diomongin nongol (panjang umur)”. Kalimat ini begitu sering terdengar saat kita membicarakan seseorang lalu orang tersebut datang pada saat itu juga.

Di Amerika dan Inggris mereka menyebutnya “speak of the devil, …here s/he comes” yang secara harfiah “bicara tentang setan, dia nongol”. Kok setan? Serem ah.

Mungkin menurut pandangan mereka, hanya setan yang sering muncul secara tiba-tiba. Masuk akal juga sih.

“You’re welcome” kata orang Amerika dan “don’t mention it” kata orang Inggris untuk membalas ucapan terima kasih. Secara harfiah “you’re welcome” = kamu dipersilahkan dan “don’t mention it” = gak usah disebutkan.

Tetapi di budaya kita, kita menjawabnya dengan kata “sama-sama” atau “terima kasih kembali” yang sering disingkat “kembali”.

We (us, our, ours) di Indonesia punya dua makna yaitu kami dan kita tetapi orang Amerika dan Inggris cuma pakai satu kata.

Dalam konteks Bahasa Indonesia “kita” dan “kami” mempunyai arti yang sangat berbeda. “Kita”, lawan bicara ikut sedangkan “kami”, lawan bicara tidak ikut terlibat. Kalimat “That is our house” memiliki 2 makna yaitu, “Itu rumah kami” dan “Itu rumah kita”.

Siapakah yang lebih eksklusif dan egois? Kita atau mereka? Padahal orang asing asing (bule) terkenal dengan individualismenya.

Bicara tentang rumah, ada kalimat yang sering kita dengar dari tuan rumah atau pemilik rumah saat kita berkunjung ke rumahnya entah itu saudara kita sendiri atau teman kita.

Kalimat itu adalah “anggap saja (seperti di) rumah sendiri”. Di Amerika mereka menyebutnya dengan “make yourself at home”.

Kedua kalimat tersebut hampir sama yaitu agar kita sebagai tamu merasa nyaman dan gak usah merasa sungkan atau malu-malu.

Mau makan, tinggal makan. Mau minum, tinggal minum seperti di rumah sendiri aja dech. Asal jangan dijual aja ya…hehehe.

Di Indonesia cinta di antara anak ingusan atau anak remaja yang masih labil dan biasanya hanya bersifat sementara disebut “cinta monyet”, sedangkan di Inggris disebut “puppy love” = cinta anak anjing.

Ternyata, sama-sama menggunakan binatang sebagai simbolnya tetapi dengan hewan yang berbeda karena perbedaan sudut pandang.

Menurut orang Indonesia, istilah itu berasal dari tingkah laku monyet yang gemar bermain-main sedangkan menurut orang Inggris, istilah itu berasal dari kasih sayang murni yang dicurahkan anak anjing (puppy) kepada manusia.

Bahasa itu sifatnya sosialkultural. Jika kita belajar bahasa asing, kita harus memahami kehidupan sosial dan budaya penutur aslinya juga.

Sumber Foto: Tulisanrakyat.com/Unsplash/LimorZellermayer

Lain lagi dengan budaya Jawa yang kaya dengan falsafahnya. Orang Jawa kalau ingin lewat di depan orang lain, mereka akan mengatakan “nyuwun sewu” atau “nuwun sewu” yang secara harfiah bermakna “minta seribu”.

Apa benar mereka minta uang seribu? Ternyata tidak. Kata “nyuwun sewu” itu identik dengan kata “excuse me” dalam Bahasa Inggris dan “minta maaf” di dalam Bahasa Indonesia.

Tetapi orang Inggris atau Amerika tidak pernah mengucapkan kata “excuse me” saat mereka lewat di depan kita karena itu bukan bagian dari budaya mereka kecuali mereka ingin bertanya.

Di Jawa pun yang namanya WC itu umumnya terletak di belakang rumah dan ukurannya biasanya sangat kecil sehingga seringkali disebut “kamar kecil”.

Makanya, orang Jawa kalau mau buang air akan bilang “mau ke belakang”. Beda dengan di Sumatera Utara, apalagi di Inggris atau Amerika. Mereka tidak mengatakan “I want to go to the back”.

“Amit-amit jabang bayi” juga merupakan frasa dalam Bahasa Jawa, yang sering diucapkan oleh wanita hamil, yang kurang lebih bermakna “lindungilah jabang bayi ini dari segala macam gangguan, supaya dapat lahir sehat tanpa gangguan apapun.”

Frasa ini berkembang dan menjadi frasa yang sifatnya umum, tidak hanya tentang bayi yang akan dilahirkan saja, dan sering disingkat menjadi “amit-amit” yang diucapkan agar hal yang buruk tidak terjadi.

Misalkan, elo kok lama-lama mirip si anu ya. lalu dijawabnya, ih amit-amit dech.

Ternyata frasa “amit-amit jabang bayi” ada padanannya di dalam Bahasa Inggris, yaitu “touch wood”.

Frasa ini diucapkan untuk menghindari kesialan, baik ketika menyebutkan keberuntungan yang telah kita dapat di masa lalu atau ketika kita menyebutkan harapan yang kita miliki di masa depan.

Misalkan, the job interview will be held next Friday. Touch wood. Harapannya interviu berjalan lancar dan dapat diterima bekerja.

Oleh sebab itu, orangtua kita selalu berpesan: “berkatalah selalu yang baik, karena itu merupakan doa”.

Ngomong-ngomong, ada yang ulang tahunkah hari ini? Jangan pergi ke Inggris atau Amerika ya … karena di sana tidak ada pesta ulang tahun. Yang ada hanya birthday party = pesta hari lahir.

Tidak ada istilah malu-malu kucing di Inggris. Yang ada hanya kata shy (malu, pemalu) dan embarrassed (merasa malu), embarrassing (memalukan) dan shame (rasa malu).

Saat menanyakan nama seseorang, di Inggris dan Amerika mereka tidak menggunakan kata tanya who (siapa) melainkan what (apa) yaitu “what is your name?” yang secara harfiah bermakna “apa namamu?”.

Kata tanya who hanya dipakai dalam konteks “who are you?” = siapa kamu?

Berikutnya adalah “papan tulis” yaitu papan besar yang digantung di dinding kelas sebagai alat atau media untuk menulis atau belajar.

Di Inggris dan Amerika tidak dinamakan “writing board”, melainkan whiteboard karena warnanya putih (sekarang) sedangkan dulu namanya “blackboard” karena warnanya hitam.

Kita menamakannya atas dasar fungsinya. Orang Inggris menamakannya atas dasar warnanya.

Dalam Bahasa Inggris dikenal adanya tenses (pola waktu). Tidak hanya Bahasa Inggris, bahasa-bahasa Eropa lainnya juga demikian bahkan Bahasa Arab yang letaknya jauh dari kawasan Eropa pun sama memiliki tenses.

Untungnya, Bahasa Inggris tidak mengenal gender untuk kata benda, berbeda dengan Bahasa Jerman, Prancis dan Spanyol.

Jerman ada tiga gender untuk kata benda yaitu: maskulin, feminin dan netral (der, die, das) sedangkan Prancis (le, la) dan Spanyol (el, la) cuma ada dua yaitu maskulin dan feminin.

Ternyata benar apa kata pepatah kita “Lain ladang, lain belalang”. Lain lubuk, lain pula ikannya. Lain bangsa, lain pula budaya dan bahasa mereka.**

Artikel ini telah dibaca 48 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Hijab Bukanlah Helm Tetapi Keduanya Sama-sama Penutup Kepala

5 April 2024 - 14:35 WIB

Hijab dan helm yang menjadi topik bahasan saya di artikel kali ini terkait dengan wanita pengendara motor.

Tidur Secukupnya: Life Is So Short

25 March 2024 - 09:42 WIB

Kesehatan tidur atau lebih dikenal dengan istilah sleep hygiene yang mengacu pada kebiasaan, perilaku dan faktor lingkungan yang sehat.

Tumben

21 March 2024 - 09:40 WIB

Menurut KBBI, ‘tumben’ bermakna (1) mula-mula sekali; (2) ganjil benar kali ini (tidak sebagai biasa atau menyalahi dugaan).

Bandel dan Nakal: Negatifkah Konotasinya?

15 March 2024 - 13:13 WIB

Secara umum, awalnya kata bandel dan nakal tersebut identik dengan perilaku anak-anak yang kurang baik seperti telah didefinisikan oleh KBBI.

Jaywalking, Zebra Cross, and Pelican Crossing

1 March 2024 - 10:05 WIB

Di negara seperti Amerika, Inggris, dan Korea Selatan jaywalking dianggap melanggar hukum dan bisa dikenakan sanksi, termasuk di Indonesia.

Nama Negara dan Kota Yang Disebut Berbeda di Dalam Bahasa Inggris dan Indonesia

29 February 2024 - 08:59 WIB

Ada cukup banyak nama tempat, kota dan negara di seluruh dunia yang ditulis atau dilafalkan secara berbeda oleh orang Inggris.
Trending di Collection