Menu

Mode Gelap
 

Collection · 26 May 2023 07:31 WIB ·

Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia di Ruang Publik dan Media Massa (Bagian 1)


 Sumber Foto: Tulisanrakyat.com/Pixabay/AnneKarakash Perbesar

Sumber Foto: Tulisanrakyat.com/Pixabay/AnneKarakash

Tulisanrakyat.com – Pada UU No.24/2009 Pasal 36 ayat 3 tercantum bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, organisasi yang didirikan atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia.

Semangat Undang-Undang No.24/2009 adalah utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing. Dengan demikian, secara formal landasan yuridis untuk mengutamakan Bahasa Indonesia ini sudah terbentuk.

Dalam praktik keseharian, kita juga sering mendengar orang berkata “Gunakanlah bahasa Indonesia dengan baik dan benar.” Kitapun mengangguk setuju dan mendukung ungkapan tersebut tanpa berpikir lebih jauh. Namun, sudahkah kita berbahasa Indonesia dengan baik dan benar?

Faktanya masih jauh panggang dari api. Mengapa demikian? karena bilamana kita tengok penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari di ruang publik dan media massa, masih banyak kita jumpai kesalahan-kesalahan dalam pemakaian bahasa Indonesia. Dalam konteks administrasi pendidikan dan pelatihan (diklat) misalnya, masih kerap muncul kesalahan-kesalahan berbahasa Indonesia pada panduan kegiatan, flier webinar, surat undangan, dll.

Demikian pula hal yang sama terjadi pada domain area publik yang lebih umum, seperti papan nama pada gedung perkantoran, permukiman, lembaga usaha, dst. Sementara pada konteks sekolah kesalahan berbahasa juga terlihat pada brosur, majalah, pengumuman, dan informasi sekolah di laman sekolah.

Melihat fenomena umum di atas, dapat dikatakan bahwa kita belum sepenuhnya berbahasa Indonesia  dengan baik dan benar, terutama pada ruang publik. Apa itu berbahasa Indonesia yang baik dan benar? Berbahasa yang baik, yaitu berbahasa sesuai dengan situasi pemakaian, sedangkan berbahasa yang benar adalah berbahasa sesuai dengan kaidah kebahasaan, yaitu pembentukan kata, pemilihan kata, dan penggunaan struktur kalimat.

Berikut ini adalah sejumlah kesalahan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik dan media massa yang penulis temukan, baik itu berupa dokumen tertulis yang sudah terpublikasi ataupun dalam bentuk lain yang bersifat publik. Mari kita analisis kesalahan tersebut satu persatu.

Kesalahan pemakaian huruf kapital

  • “Diklat peningkatan kompetensi secara daring bagi Guru-Guru dan Tenaga Kependidikan seluruh Indonesia perlu diselenggarakan secara berkala.”

Pada contoh di atas terdapat kesalahan dalam hal penulisan huruf kapital. Seperti kita ketahui, huruf kapital dipakai salah satunya untuk menunjukkan nama diri. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) nama diri berarti ‘nama yang dipakai untuk menyebut diri seseorang, benda, tempat tertentu, dan sebagainya’. Maka, nama diri sudah pasti atau satu-satunya atau tidak ada yang lain (Sriyanto, 2019: 20). Pada contoh di atas, kata ‘Guru-guru’ dan ‘Tenaga kependidikan’ bukan nama diri. Artinya kedua kata tersebut mengacu pada guru dan tenaga kependidikan secara umum. Dengan demikian, alih-alih ditulis dengan huruf kapital, kata-kata tersebut semestinya ditulis dengan huruf kecil (guru-guru dan tenaga kependidikan.).

  • “Diklat online  guru  melek  IT  diselenggarakan  untuk  mendorong  guru-guru  Indonesia  agar melek  IT.”

Sebaliknya terjadi pada contoh nomor 2, ungkapan “Diklat online guru melek IT”, yang semestinya ditulis dengan huruf kapital, ditulis dengan huruf kecil. Oleh karena “Diklat online guru melek IT” merupakan nama diri/nama diklat, semestinya ia ditulis dengan huruf kapital: “Diklat Online Guru Melek IT”.

Kesalahan Penggunaan Bentuk Imbuhan Terikat.

  • Membawa Surat Hasil Test Rapid Antigen Non Reaktif

Terdapat kesalahan pada penggunaan bentuk imbuhan terikat “Non” di atas. Penggunaan imbuhan terikat seperti “”pra”, “antar”, “maha”, “kontra”, “pro”, dan “pasca”, menurut PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia), mensyaratkan pemisahan dengan kata yang mengikutinya. Dengan demikian, kata “Non Reaktif” di atas seharusnya ditulis “Nonreaktif.”

  • Diklat online merupakan diklat yang dalam pelaksanaannya dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja,  sehingga  dapat  berjalan  24  jam  non  stop.

Pada contoh di atas, seperti halnya pada nomor 1, penulisan kata “non stop” semestinya digabung menjadi “nonstop”, karena bentuk “non” adalah imbuhan terikat yang kaidahnya harus digabung dengan kata penyertanya.

3)   “Hal-hal yang belum jelas dapat diklarifikasi dengan menghubungi nara hubung kami, saudara B.”

Penulisan kata ‘nara hubung’ di atas tidak tepat karena ‘nara’ adalah bentuk imbuhan terikat. Maka, penulisannya harus disambung menjadi ‘narahubung.’

Kesalahan penggunaan bentuk kata yang tidak baku

1) “Kami mohon Saudara berkenan mengijinkan dan menugaskan Sdr.A  sebagai narasumber.”

Penggunaan kata ‘mengijinkan’ pada contoh di atas tidak tepat. Bentuk baku kata dasar ‘ijin’ adalah ‘izin’, sehingga kata bentukan yang tepat adalah ‘mengizinkan’ bukan ‘mengijinkan.’

2) “Praktek dokter spesialis penyakit dalam.”

Penulisan kata ‘praktek’ di atas tidak tepat karena kata tidak baku. Bentuk baku kata ‘praktek’ adalah ‘praktik’, maka koreksi bagi frase di atas adalah “Praktik dokter spesialis penyakit dalam.”

Kesalahan Struktur Kalimat

1) “Bagi peserta dan panitia dinas yang menggunakan transportasi darat (non  taksi) menuju lokasi kegiatan diatur sebagai berikut:”

Terdapat kesalahan gramatika pada kalimat di atas, yaitu hilangnya subjek

kalimat. Hal ini karena frase .. ‘peserta dan panitia dinas yang menggunakan transportasi darat (non taksi) menuju lokasi kegiatan bukanlah subjek dari predikat ‘diatur’, melainkan objek dari kata depan ‘bagi’.

Dengan demikian kalimat ini kehilangan subjeknya. Namun kalimat tersebut dapat diperbaiki dengan menghilangkan kata depan “Bagi” menjadi “Peserta dan panitia dinas yang menggunakan transportasi darat (nontaksi) menuju lokasi kegiatan diatur sebagai berikut: ..”. Dengan dihilangkannya kata depan ‘Bagi’, frase nomina tersebut menjadi subjek bagi predikat ‘diatur’, dan struktur kalimat tersebut menjadi lengkap. Mari kita bahas contoh berikutnya.

  1. Berdasarkan surat dari Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan tanggal 18 Januari 2021 nomor 0071/B2/KP/2021 perihal Lanjutan Pelaksanaan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 1 bahwa Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 1 telah dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 15 Oktober 2020.”

Struktur kalimat di atas juga tidak lengkap. Kalau pada contoh 1 di atas kalimat tersebut kehilangan subjeknya, pada contoh 2 ini kalimat tersebut kehilangan predikatnya. Pada bagian mana? Kata hubung ‘bahwa’ di atas berfungsi membentuk subjek (anak kalimat) dalam bentuk klausa. Maka, klausa “…bahwa Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 1 telah dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 15 Oktober 2020” adalah satu kesatuan subjek. Subjek ini, seperti yang kita lihat pada di atas, tidak memiliki predikat.

Untuk memperjelas hal ini, perhatikan contoh kalimat berikut:

Bahwa dia seorang murid yang pandai.

Klausa di atas berfungsi sebagai subjek, dan tanpa diikuti predikat sehingga tidak lengkap. Koreksi kalimat tersebut adalah sbb:

Bahwa dia seorang murid yang pandai telah diakui para guru di sekolah itu.”

Kembali kepada Contoh 2 di atas, untuk mengkoreksi kalimat tersebut, kata hubung “bahwa” perlu dihilangkan. Dengan cara itu, kalimat tersebut menjadi kalimat sederhana, dan subjek-predikatnya pun lengkap. Tanda koma pun ditambahkan setelah kata “..Angkatan 1” untuk memisahkan antara keterangan dan subjek. Kalimatnya menjadi seperti berikut:

Berdasarkan surat dari Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan tanggal 18 Januari 2021 nomor 0071/B2/KP/2021 perihal Lanjutan Pelaksanaan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 1, (bahwa-dihapus) Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 1 telah dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 15 Oktober 2020.”

Kesalahan penggunaan tanda koma

1)  Warung Nasi, Jual Pulsa (Tertulis pada papan nama sebuah warung makan di pinggir jalan).

Pemakaian tanda koma pada tulisan di atas tidak benar. Tanda koma tidak bisa dipakai untuk memisahkan dua kalimat. Sebaliknya, fungsi pemisahan dua kalimat ini ada pada tanda titik. Jadi, alternatif  penulisan yang benar adalah :

  1. “Warung Nasi. Jual Pulsa.” (menggunakan tanda titik, dan bukan tanda koma)
  2. “Warung Nasi, juga Jual Pulsa (menggunakan kata hubung “juga” untuk menggabungkan dua kalimat)

2) “Diharapkan agar seluruh peserta dan pihak yang terkait dalam penyelenggaraan kegiatan ini, berkenan untuk membaca dan memahami panduan kegiatan dimaksud.”

Terdapat kesalahan penggunaan tanda koma pada kalimat di atas. Sudah menjadi kaidah dalam Bahasa Indonesia bahwa tidak boleh ada tanda koma di antara subjek dan predikat sebuah kalimat (kecuali untuk keterangan aposisi dengan diapit dua koma di antaranya). Pada anak kalimat di atas, “…agar seluruh peserta dan pihak yang terkait dalam penyelenggaraan diklat ini, berkenan” subjeknya adalah peserta dan pihak sementara predikatnya adalah berkenan. Di antara subjek-predikat ini tertulis tanda koma. Seharusnya kalimat itu ditulis tanpa tanda koma seperti berikut: “Diharapkan agar seluruh peserta dan pihak yang terkait dalam penyelenggaraan kegiatan ini berkenan untuk membaca dan memahami panduan kegiatan.”

Kerancuan penulisan kata depan dan awalan ‘Di’

  1. “Rumah di jual/ Ruko di kontrakkan.”

Pada contoh di atas, penulisan kata ‘di jual/di kontrakkan’ semestinya digabung menjadi ‘dijual/dikontrakkan’ karena ‘di’ di sini merupakan kata awalan, bukan kata depan, yang merupakan pembentuk verba pasif.

  1. “Di larang berjualan disini.”

Sementara pada contoh nomor 2 di atas, penulisan kata ‘di larang’ seharusnya digabung menjadi ‘dilarang’ dengan alasan yg sama pada contoh nomor 1. Sebaliknya, kata ‘disini’ semestinya dipisah menjadi ‘di sini’ karena ia merupakan kata depan yang mengindikasikan tempat (contoh: di sekolah, di rumah).**

Sumber:

  1. https://123dok.com/document/y96o6vry-panduan-diklat-online-guru-melek-it-angkatan-th.html
  2. https://www.kompasiana.com/nontunai/5a5d9da6cbe5236f7e71dfc2/mana-yang-benar-nontunai-non-tunai-atau-non-tunai?page=all#section1
  3. https://www.kompas.com/skola/read/2021/08/05/152552769/penggunaan-kata-depan-di-ke-dan-dari
  4. https://drive.google.com/drive/folders/1mY3qSnt5TJsM3sUBK6IBEMzl_PdoAO-C
  5. http://p4tkmatematika.kemdikbud.go.id/kediklatan/2021/02/10/undangan-peserta-pelatihan-daring-pemanfaatan-tik-jenjang-menengah-dan-dasar/
Artikel ini telah dibaca 27 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Hijab Bukanlah Helm Tetapi Keduanya Sama-sama Penutup Kepala

5 April 2024 - 14:35 WIB

Hijab dan helm yang menjadi topik bahasan saya di artikel kali ini terkait dengan wanita pengendara motor.

Tidur Secukupnya: Life Is So Short

25 March 2024 - 09:42 WIB

Kesehatan tidur atau lebih dikenal dengan istilah sleep hygiene yang mengacu pada kebiasaan, perilaku dan faktor lingkungan yang sehat.

Tumben

21 March 2024 - 09:40 WIB

Menurut KBBI, ‘tumben’ bermakna (1) mula-mula sekali; (2) ganjil benar kali ini (tidak sebagai biasa atau menyalahi dugaan).

Bandel dan Nakal: Negatifkah Konotasinya?

15 March 2024 - 13:13 WIB

Secara umum, awalnya kata bandel dan nakal tersebut identik dengan perilaku anak-anak yang kurang baik seperti telah didefinisikan oleh KBBI.

Jaywalking, Zebra Cross, and Pelican Crossing

1 March 2024 - 10:05 WIB

Di negara seperti Amerika, Inggris, dan Korea Selatan jaywalking dianggap melanggar hukum dan bisa dikenakan sanksi, termasuk di Indonesia.

Nama Negara dan Kota Yang Disebut Berbeda di Dalam Bahasa Inggris dan Indonesia

29 February 2024 - 08:59 WIB

Ada cukup banyak nama tempat, kota dan negara di seluruh dunia yang ditulis atau dilafalkan secara berbeda oleh orang Inggris.
Trending di Collection