Menu

Mode Gelap
 

Pendidikan & Pengetahuan Umum · 26 Aug 2023 15:23 WIB ·

Ayo Lindungi Otak Kita dengan Membaca Buku karena Lebih Baik Kutu Buku Daripada Mati Kutu


 Sumber Foto: Tulisanrakyat.com/Eddie Perbesar

Sumber Foto: Tulisanrakyat.com/Eddie

Tulisanrakyat.com – Ketika mengajar, saya pernah menanyakan ke seluruh siswa dari beberapa kelas yang saya ajar apakah mereka suka membaca.

Rata-rata hanya 5% dari seluruh jumlah siswa yang menjawab ya. Lalu, saya merenung sejenak bagaimana mereka bisa belajar jika mereka tak suka membaca?

Menurut data yang ada minat baca (literasi) masyarakat kita itu rendah sekali.

BACA JUGA: Bill (Paruh): Dari Bentuk Paruhnya Jadi Namanya dan Paruh Tidak Selalu tentang Burung

Kenapa literasi kita sangat rendah ya? Bahkan UNESCO menyebutkan bahwa Indonesia berada di urutan kedua dari bawah soal literasi dunia. Ini artinya minat baca di Indonesia sangat rendah.

Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatikan dan membuat kita miris yaitu hanya 0,001%, jauh di bawah 1%. Bahkan terendah di ASEAN.

Ada 8 negara dengan tingkat literasi tertinggi di dunia di mana penduduknya sangat gemar membaca buku yaitu: Finlandia, Swedia, Belanda, Jepang, Hong Kong, Australia, Cina, dan Singapura.

BACA JUGA: Kata ‘Man’: Maknanya Secara Umum, Secara Khusus, dan Lainnya

Ada beberapa alasan yang diduga menjadi pemicu (penyebab) kurangnya atau rendahnya tingkat budaya literasi (minat baca) di kalangan masyarakat kita yaitu:

(1). Belum dibangunnya kebiasaan membaca sejak kecil di keluarga dan tidak dilatihnya kebiasaan membaca sejak dini.

Solusinya: Biasakan anak-anak untuk gemar membaca. Caranya? Ajak sesering mungkin anak-anak kita ke perpustakaan atau toko buku untuk membaca.

Kalau ke toko buku mungkin bisa sebulan sekali karena kita harus membelinya (butuh dana). Tunggu gajian itu pun kalau ada budgetnya, hehe. Perpustakaan bisa jadi alternatif (pilihan) kedua

Biarkan anak-anak memilih sendiri jenis bacaan atau buku yang mereka sukai. Mungkin mereka suka cerita rakyat. Mungkin mereka suka cerita misteri. Mungkin juga sejarah atau olahraga.

Mungkin juga mereka suka dengan ilmu pengetahuan. Biarkan mereka bereksplorasi diri menjelajahi dunia lewat buku. Ingat, buku itu kan jendela dunia.

Penulis sendiri sudah menerapkan hal ini ke anak-anak sejak dini. Karena seringnya kita ajak ke toko buku setiap liburan maka hampir setiap hari Sabtu atau Minggu (weekend) anak-anak pasti selalu minta ke toko buku.

Awalnya kami sering bawa anak-anak ke toko bekas di Pasar Jumat dan di Rempoa. Di Rempoa malah ada 2 toko buku bekas. Saat ini yang masih bertahan hanya satu toko, penjualnya bernama Bang Ucup (Yoesoef).

Anak-anak sedang mencari dan memilih buku yang mereka sukai di Toko Buku Bekas di Pasar Jumat (Sekarang Jadi Halte Busway). Sumber Foto: Tulisanrakyat.com/Eddie

Sejak itu, mereka jadi suka sekali membaca dan pencinta buku (book lover) tetapi belum sampai taraf kutu buku (book worm).

Malah pada tahun 2017 lalu mereka secara bersama termasuk ayahnya (saya sendiri) dilibatkan untuk mengumpulkan berbagai informasi menarik tentang sains dan sebagainya lalu menyusunnya menjadi sebuah buku dan telah diterbitkan oleh Penerbit BPK. Judulnya “Kenapa Ini Kenapa Itu”.

(2). Penggunaan teknologi informasi elektronik seperti smartphone yang lebih canggih sehingga tidak lagi mengutamakan buku.

Banyak siswa atau pelajar lebih suka mencari informasi melalui gadget dari pada melalui buku. Buku-buku yang disentuh pun hanya buku pelajaran dari sekolah.

Itu pun seringkali dibacanya saat mau UTS (ujian tengah semester) atau UAS. (ujian akhir semester). Di era penulis kuliah dulu, dikenal dengan istilah SKS yang diplesetkan menjadi (S)istem (K)ebut (S)emalam.

Belajar semalaman untuk tes esoknya. Hasilnya? Kurang optimal pastinya.

Harusnya hal tersebut bukan menjadi alasan atau penyebab tapi justru sebaliknya. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tentunya membuat segalanya menjadi lebih mudah.

Artinya, siapapun khususnya para pelajar/mahasiswa kini dapat mengakses buku elektronik (e-book) dengan mudah tanpa harus membeli buku cetak (printed version) ke toko buku. Setelah selesai di download, tinggal baca dech.

(3). Fasilitas pendidikan yang tidak mendukung atau masih minim seperti tidak semua sekolah memiliki perpustakaan sendiri.

Sekolah sudah selayaknya menyediakan perpustakaan atau ruang baca yang nyaman bagi para siswanya. Sediakan waktu dan hari dalam satu minggu (dijadwalkan) untuk melakukan kunjungan ke perpustakaan sekolah.

Sediakan mereka waktu minimal 30 menit untuk memilih dan membaca salah satu buku yang mereka pilih lalu menceritakan secara singkat tentang isinya.

Hal ini tidak hanya dilakukan di sekolah saja, melainkan bisa dilakukan di rumah. Artinya buat ruang kecil untuk ruang baca keluarga atau tepatnya home library (perpustakaan rumah).

Tidak harus mewah. Sediakan rak untuk menaruh buku-buku dari sekolah ditambah koleksi buku lainnya (bisa buku bekas).

Hal ini untuk menumbuhkan minat baca mereka. Keluarga adalah tempat awal seorang anak belajar sebelum menuju sekolah.

Ada sekolah tertentu yang mewajibkan siswanya yang telah lulus menyumbangkan satu buah buku ke sekolah. Cara ini tentunya dapat menambah jumlah koleksi buku di perpustakaan sekolah.

(4). Mahalnya harga buku yang tidak terjangkau oleh masyarakat lapisan bawah. Bahkan untuk menerbitkan buku yang kita tulis saja sulit di Indonesia.

Tentu, pertimbangan pertama penerbit adalah nilai jual, apakah buku itu laku di pasaran atau tidak. Kalaupun diterbitkan maka harga bukunya pun relatip menjadi lebih mahal sehingga berdampak pada keterbatasan buku bacaan di rumah maupun di sekolah.

(5). Ada sebagian masyarakat yang kita yang belum bisa membaca alias buta huruf/aksara. Kondisi seperti ini bisa ditemui di dearah-daerah pedesaan, terutama di daerah terpencil.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan telah menargetkan untuk menuntaskan buta aksara, setidaknya pada 2023 sudah tidak ada lagi wilayah yang tingkat buta aksaranya tinggi.

Data BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan tingkat buta huruf di Indonesia saat ini sebanyak 1,93%. Artinya sudah ada 98,07% penduduk Indonesia yang sudah tidak buta huruf.

(6). Kesibukan di sekolah atau tempat kerja yang hampir menyita sebagian besar waktu kita sehingga kita tidak puya banyak waktu untuk membaca.

Untuk mereka yang masih sekolah atau belajar, membaca sepertinya hal yang wajib karena membaca adalah bagian dari proses belajar.

Tetapi kenyataannya, siswa disibukkan pula oleh berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga basket, bulu tangkis, kepramukaan, dll.

Sedangkan bagi mereka yang bekerja, secara umum waktunya habis atau tersita oleh pekerjaan. Pulang kerja, capek dan harus istirahat.

Tetapi membaca bisa dilakukan kapan saja. Bisa saat menjelang tidur. Luangkan waktu sejenak, 30 menit mungkin cukup sebagai pengantar tidur.

Membaca bisa juga dilakukan saat weekend atau hari libur. Selalu luangkan waktu untuk membaca walaupun hanya sebentar karena begitu banyak buku yang harus dibaca di depan kita. So many books, so little time.

Ayo kita majukan bangsa dengan membaca. Ajak buah hati kita mulai membaca satu buku hari ini.

Sumber Foto: Tulisanrakyat.com/Instagram

Sebagai penutup, ayo lindungi otak kita dengan buku (manfaat membaca):

Menikmati waktu luang dengan membaca buku ternyata dapat mencegah kemunduran kinerja otak secara alami. Baltimore’s Center for Occupational and Environmental Neurology meneliti 112 orang buruh pabrik yang darahnya mengandung timbal, zat yang berbahaya bagi kesehatan mental.

Hasilnya, buruh yang gemar membaca bisa mencetak skor baik dalam tes kognitif. Para peneliti berasumsi bahwa hobi membaca bisa meningkatkan kemampuan otak, yang akan terasa ketika usia lanjut. [Sumber: Majalah Prevention, September 2006].

Ingat (untuk para orangtua, pendidik, guru), persiapan sebelum hujan.

Saat buah hati kita hendak bepergian,

ada baiknya ia dibekali payung sebelum hujan.  Namun …

Persiapan kehidupan.

Buah hati kita membutuhkan wawasan.

Ajaklah mereka gemar membaca…**

Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Akhiran S (Suffix S) dan Apostrophe (‘) S

28 March 2024 - 10:14 WIB

Akhiran S atau Suffix S dan Apostrophe S adalah dua hal yang perlu mendapatkan perhatian dari mereka yang belajar Bahasa Inggris.

Wajib Belajar Pendidikan Dasar: Kenapa Harus 6 dan Lalu 9 Tahun?

25 March 2024 - 15:34 WIB

Wajib Belajar Pendidikan Dasar merupakan program Pemerintah untuk menjawab kebutuhan dan tantangan zaman di masa depan.

Haus dan Lapar: Thirsty and Hungry

6 March 2024 - 10:18 WIB

Pada bulan Ramadhan kaum muslimin di seluruh dunia akan menjalankan ibadah puasa, yaitu menahan rasa haus dan lapar.

Juga

17 February 2024 - 06:47 WIB

Di dalam konteks kaidah Bahasa Indonesia, kata ‘juga’ bisa digunakan untuk menyatakan persetujuan baik dalam kalimat positif maupun negatif.

Word Order

16 February 2024 - 21:08 WIB

Word order secara harfiah adalah susunan (tatanan) kata. Susunan kata bisa mempengaruhi makna suatu kata majemuk, frasa atau bahkan kalimat.

Mumpung dan Aji Mumpung

24 January 2024 - 07:18 WIB

Kata ‘mumpung’ adalah kata keterangan dan sering dimajemukkan dengan kata ‘aji’, menjadi ‘aji mumpung’ yang berfungsi sebagai kata benda.
Trending di Pendidikan & Pengetahuan Umum