Menu

Mode Gelap
 

Collection · 26 Nov 2023 14:04 WIB ·

Menjadi Tua Itu Alami (Tak Seorang Pun Bisa Menolaknya) Tetapi Menjadi Bijak Itu Pilihan


 Sumber Foto: Tulisanrakyat.com/EddieWinarto Perbesar

Sumber Foto: Tulisanrakyat.com/EddieWinarto

Tulisanrakyat.com – Ada pernyataan berbunyi “Everybody wants to live a long life but nobody wants to be old”. Semua orang ingin panjang umur tetapi tak seorang pun ingin menjadi tua. Bagaimana menurut anda? Setujukah?

Adakah dari anda yang ingin panjang umur? Adakah dari anda yang ingin tetap awet muda? Pasti jawabannya ‘ya’ untuk 2 pertanyaan tersebut. Semua orang, pada umumnya, pasti menginginkan hal tersebut.

Menjadi tua adalah proses alami dan tak seorang pun bisa menolak atau menghindarinya sekalipun ia orang kaya. Uang mungkin bisa mengubah penampilan orang agar tak terlihat tua tetapi uang tidak bisa mencegah orang untuk menjadi tua.

BACA JUGA: Di Balik Kesuksesan Pria (Suami) Ada Peran Wanita (Istri) Hebat

Menjadi tua pun tidak selalu identik dengan menjadi bijak. Artinya dengan pertambahan usia tidak secara otomatis orang juga menjadi bijaksana karena menjadi bijaksana itu dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal.

Faktor-faktor internal yang ikut mempengaruhi seseorang itu bersifat dan bersikap bijak adalah inteligensia (kecerdasan), punya hati (berhati baik) dan daya intelektualnya tinggi.

Sedangkan faktor eksternalnya adalah pengalaman hidupnya dan lingkungan hidup, khususnya lingkungan keluarga.

BACA JUGA: Jantan yang Unik

Pengalaman hidup seringkali mengajarkan kita untuk bersikap lebih bijaksana. Makanya orang bijak seringkali digambarkan seperti seorang kakek berjanggut putih bukan anak muda belia.

Oleh karena itu, untuk menjadi seorang pemimpin terutama pemimpin suatu negara, diperlukan orang yang sangat berpengalaman dan ini tercermin dari kematangan pribadi dan usianya.

Walaupun usia tidak mempengaruhi apakah seseorang itu bijak atau tidak. Yang tua belum tentu lebih bijak dari yang lebih muda atau sebaliknya. Bahkan banyak orang muda yang bersikap lebih bijak.

Di negara-negara besar seperti Amerika, Jerman, Iran dan sebagainya rata-rata pemimpinnya (presiden, kanselir) berusia di atas 50 tahun, bahkan hampir semua pemimpin di seluruh dunia.

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, saat ini usianya 80 tahun. Ada juga pemimpin termuda saat ini yaitu presiden Ekuador, Daniel Noboa, usianya masih 35 tahun.

Dan belum lama ini negara kita dihebohkan dengan pencalonan Gibran Rakabuming sebagai cawapres mendampingi capres Prabowo di Pemilu 2024 mendatang karena usianya yang masih muda.

Walaupun usianya relatif masih muda yaitu 36 tahun tetapi usia Gibran sebaya dengan presiden Ekuador, Daniel Noboa, bahkan lebih tua 1 tahun.

Usia seringkali digambarkan sebagai simbol kematangan jiwa seseorang. Makin tambah usianya, makin baik kontrol diri dan emosinya serta jiwa kepemimpinannya walaupun tidak menjamin bahwa orang tersebut bijak atau tidak.

Prinsipnya, untuk menjadi seorang pemimpin itu (raja, presiden, kanselir, dsb) tidak hanya harus pintar, peduli, punya hati, melainkan juga harus bijak dan arif, tidak masalah berapapun usianya.

Ada satu cerita rakyat yang terkenal waktu penulis masih belajar di sekolah dasar. Dikisahkan pada waktu itu ada 2 orang ibu muda yang memperebutkan seorang bayi.

Keduanya mengklaim bahwa bayi itu adalah anaknya. Karena waktu itu belum ada tes DNA, jadi sang Raja yang relatif masih cukup muda merasa bingung dan lalu merenung sejenak untuk mencari solusinya.

Lalu sang Raja muda itu mengambil sebilah pedang yang sangat tajam dan meletakkan sang bayi di atas meja.

Demi keadilan, kata sang Raja kepada kedua ibu muda tersebut (macan = mama cantik, istilah anak zaman now..hehe) maka bayi ini akan saya belah menjadi dua bagian dan masing-masing akan mendapatkan sebelah dari bayi ini.

“Cukup adil, bukan?”: jelas sang Raja. Ibu muda yang satu (ibu A) berteriak histeris lalu menangis dan memohon kepada sang Raja “Jangan lakukan itu, Baginda. Berikan saja bayi itu kepada ibu ini (ibu B).

Biarkan ia merawatnya”, katanya lagi. Akan tetapi ibu B malah berkata demikian: “Belah saja, Baginda. Agar kami masing-masing mendapat separuhnya”.

Akhirnya Raja muda itu dengan seketika memperoleh jawaban, maka ia memerintahkan kepada prajurit kerajaan untuk menangkap dan menghukum ibu B.

Ibu kandung mana yang tega membunuh anaknya sendiri? Lalu, sang Raja menyerahkan bayi itu kepada ibu kandungnya, yaitu ibu A.

Dari kisah di atas, ada hikmah atau pelajaran yang dapat kita ambil yaitu bagaimana seharusnya kita bisa bertindak adil dan bijak di dalam mengatasi suatu masalah.

Tak hanya seorang pemimpin (raja, presiden) yang harus bersikap bijaksana, kita pun sebagai manusia biasa, apalagi sebagai orangtua dari anak-anak kita, harus mampu berpikir dan bersikap dewasa ketika kita dihadapkan oleh suatu keadaan yang rumit atau suatu masalah besar.

Orangtua bijak akan melahirkan dan mendidik generasi yang tangguh dan mandiri. Generasi cerdas dan kreatif. Generasi yang mampu memahami letak kekuatan dan kelemahannya.

Anak yang bijak pun lahir dari lingkungan bijaksana dan ada peran orangtua dalam lingkungan tersebut.

Menjalin kelekatan psikologis tentu akan membuat hubungan orangtua-anak menjadi lebih positif. Anda bisa mengajak anak-anak untuk merefleksiikan dengan cara menanyakan kegiatan keseharian anak dan bagaimana perasaan anak.

Hal ini tentu sangat berharga bagi orangtua dan anak juga.

Last but not least, ada satu kisah lagi yang patut kita simak di akhir artikel ini. Kali ini bukan rajanya yang harus bijak melainkan rakyatnya.

Dikisahkan pada suatu hari ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja di mana sang raja mengalami kebutaan pada salah satu matanya, yaitu mata kirinya.

Sang Raja hanya mampu melihat dengan mata kanannya saja.

Suatu hari Raja tersebut mengadakan sebuah sayembara melukis wajah raja. Pesertanya bebas dan banyak rakyat yang ikut serta terutama para lelaki bujang alias jomblo.

Loh kenapa? Karena yang terpilih dan memenangkan sayembara akan dinikahkan dengan putri Raja yang sangat cantik. Asiik ya … mau donk ikutan … hehe

Singkat cerita, tersisa 3 peserta dari proses seleksi tersebut. Ke 3 peserta itu semuanya adalah pelukis, yaitu: Pelukis A, B dan C.

Pelukis A mulai melukis wajah sang Raja. Akan tetapi, sang raja begitu terkejut ketika beliau melihat lukisannya karena wajah sang Raja dilukis dengan kedua mata yang normal tanpa buta pada mata kirinya.

Raja sangat marah dan kecewa karena lukisan itu tidak sesuai dengan faktanya. Maka pelukis A dinyatakan gagal (tereliminasi).

Lalu, tiba giliran pelukis B. Ia pun mulai melukis wajah Raja tersebut apa adanya atau sesuai dengan fakta, yaitu dengan mata kiri yang buta.

Raja sangat kecewa karena kekurangannya terlihat pada lukisan tersebut. Pelukis B pun gagal pula.

Pelukis C adalah pelukis terakhir dan sebelum melukis wajah sang Raja dia berpikir sejenak sambil mengamati wajah sang Raja. Lalu, ia mulai melukisnya.

Dan ketika selesai sang Raja melihat lukisan tersebut. Betapa bahagianya sang Raja melihat lukisan itu karena lukisan itu digambar dari sisi kanan wajah Raja agar mata Raja yang buta di sebelah kiri tak terlihat.

Pelukis C melakukannya dengan cara yang sangat bijak dan akhirnya keluar sebagai pemenang dan menikahi putri Raja. Happy ending … ya

Tak mudah memang untuk bersikap bijak dan arif, apalagi berlaku adil tanpa memiihak. Coba lihat wasit yang memimpin pertandingan sepakbola.

Ia seringkali diperlakukan kasar seperti diprotes, didorong, bahkan dipukul jika keputusannya dianggap tidak adil. Para pemainlah yang seharusnya lebih bijak dengan menghormati keputusan wasit.

Oleh karena itu, jangan lah pernah menghina atau merendahkan kekurangan atau kelemahan orang lain karena setiap orang pasti memiliki kelemahan dan kelebihan.

Di balik kelemahannya, pasti ada kelebihannya. Tetap semangat. Tetap lah bijak dalam menjalani sulitnya kehidupan ini. Tak ada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang sempurna.**

Artikel ini telah dibaca 37 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Hijab Bukanlah Helm Tetapi Keduanya Sama-sama Penutup Kepala

5 April 2024 - 14:35 WIB

Hijab dan helm yang menjadi topik bahasan saya di artikel kali ini terkait dengan wanita pengendara motor.

Tidur Secukupnya: Life Is So Short

25 March 2024 - 09:42 WIB

Kesehatan tidur atau lebih dikenal dengan istilah sleep hygiene yang mengacu pada kebiasaan, perilaku dan faktor lingkungan yang sehat.

Tumben

21 March 2024 - 09:40 WIB

Menurut KBBI, ‘tumben’ bermakna (1) mula-mula sekali; (2) ganjil benar kali ini (tidak sebagai biasa atau menyalahi dugaan).

Bandel dan Nakal: Negatifkah Konotasinya?

15 March 2024 - 13:13 WIB

Secara umum, awalnya kata bandel dan nakal tersebut identik dengan perilaku anak-anak yang kurang baik seperti telah didefinisikan oleh KBBI.

Jaywalking, Zebra Cross, and Pelican Crossing

1 March 2024 - 10:05 WIB

Di negara seperti Amerika, Inggris, dan Korea Selatan jaywalking dianggap melanggar hukum dan bisa dikenakan sanksi, termasuk di Indonesia.

Nama Negara dan Kota Yang Disebut Berbeda di Dalam Bahasa Inggris dan Indonesia

29 February 2024 - 08:59 WIB

Ada cukup banyak nama tempat, kota dan negara di seluruh dunia yang ditulis atau dilafalkan secara berbeda oleh orang Inggris.
Trending di Collection